Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 09 September 2011

Sedikit Kisah Nabi Musa AS.


Bertahun – Tahun setelah  keluarga Nabi Yusuf Menetap di Mesir, keturunan Bani Israil semakin berkembang. Bani Israil tinggal di Mesir di bawah kekuasaan Raja Fir’aun. Fir’aun dikenal sebagai raja yang zalim. Selain itu, dia juga sangat sombong. Dia ingin disembah oleh rakyatnya. Oleh Karena itu, dia menyiksa orng-orang yang tidak mau tunduk kepadanya. Raja Fir’aun juga memaksa orang-orang Israil menjadi Budak. Mandor yang kejam mengawasi mereka, para pemuda dipaksa untuk menarik batu-batu besar guna membangun kota-kota. Mereka juga disuruh membuat batu bata dari tanah liat, sementara itu. Para pengawas budak mencambuki mereka.
Suatu malam, Fir’aun pergi tidur seperti biasa. Dia membaringkan badannya di peraduan. Tidak berapa lama, dia pun terlelap. Namun, kali ini tidurnya tidak nyenyak seperti biasanya. Tidurnya dibayangi oleh mimpi yang sangat menakutkan. Dia bermimpi negeri Mesir terbakar habis, rakyatnya banyak yang tewas.
Fir’aun terbangun dari mimpinya yang menakutkan itu. Keringat bercucuran di dahinya. Tiba-tiba, dia merasa menggigil kedinginan , Padahal kamarnya sangat hangat. Fir’aun terduduk di tepi peraduannya memikirkan mimpinya tadi. Keesokan harinya, Fir’aun memanggil orang-orang ahli sihir di kerajaannya. Dia bertanya kepada mereka tentang arti mimpinya itu.
“Penyihirku…….!!!!” Panggil Fir’aun pada para ahli sihirnya
Lalu datanglah 3 orang penyihir Fir’aun 
“Ada apa tuanku…..??” Tanya salah salah seorang penyihir Fir’aun  mewakili yang lain.
“Apakah kalian dapat menafsirkan mimpiku malam tadi….???” Tanya Fir’aun  lagi
“Mudah-mudahan kami bisa menafsirkan mimpi tuan, apakah mimpi tuan itu…???” ujar penyihir  itu
“Mimpiku malam tadi, adalah Kerajaan kita, Kerajaan Mesir habis terbakar, banyak rakyat yang mati akibat kebakaran itu. Apakah arti mimpiku itu…??” Tanya Fir’aun  kepada para penyihirnya
Para Ahli sihirnya sibuk dalam tenungnya. Lalu salah seorang dari mereka  berkata,
Sambil berhormat.
“Wahai rajaku, aku tahu apa yang dimaksud mimpimu itu, aka nada seorang bayi laki-laki yang besar nanti akan meruntuhkan kekuasaanmu” Ujar penyihir itu  sambil tetap berhormat.
Mendengar keterangan itu Fir’aun memanggil prajuritnya “Prajuritku aku ingin engkau mengumpulkan seluruh pasukanmu lalu, bunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil…!!! Cepat…!!” perintah Fir’aun  kepada prajuritnya
“Ba…. Baik tuanku” ujar prajuritnya  ketakutan
Lalu Pasukan tentara Fir’aun Mendatangi satu per-satu rumah Bani Israil. Mereka memeriksa apakah penghuni rumah itu sedang hamil atau baru melahirkan bayi. Kalau mereka menemukan bayi laki-laki, mereka akan merampas bayi itu dan membunuhnya. Sementara itu, di sebuah keluarga Bani Israil, hiduplah seorang ibu muda yang baru melahirkan. Dia tidak mau anaknya dibunuh oleh tentara Fir’aun. Dia menangis, mohon petunjuk Allah untuk menyelamatkan anaknya.
“Ya Allah, bantulah aku agar dapat menyelamatkan anakku dari kebengisan Fir’aun” mohon ibunda  Musa kepada Allah
Kemudian, Allah memberinya ilham. Putranya yang diberi nama Musa itu dimasukkan ke dalam keranjang. Diam-diam, pada malam hari, dia menghanyutkan keranjang berisi bayi ke sungai Nil.
“Aku akan memasukkan bayiku ke dalam keranjang, dan setelah itu aku akan menghanyutkannya, ia aku akan menghanyutkanya ke sungai Nil” ujar Ibunda  Musa bersamangat.
Keesokan harinya, istri Fir’aun yang bernama Asiah  turun ke tepi sungai Nil untuk mandi. Dan Melihat sebuah keranjang ter apung-apung di atas sungai.
Diapun menyuruh para dayangnya untuk mengambil keranjang itu.
“Ambilkan keranjang itu kemari” pinta Asiah kepada dayangnya
Lalu salah satu dayangnya turun ke sungai  dan menarik keranjang itu ke tepi. Asiah duduk di samping keranjang dan membuka tutupnya. Tampak seorang bayi mungil sedang menangis. Hati Asiah tersentuh. Dia segera mengangkat bayi itu dan menggendongnya, lalu mendekap bayi itu ke wajahnya. Asiah membawa sang bayi pulang dia mengabarkan penemuannya itu kepada Fir’aun. Fir’aun  berkata, “Barangkali anak inilah yang nantinya akan meruntuhkan kerajaanku. Berikan bayi itu….!!!!!! Akan aku bunuh dia.”
“Jangan bunuh anak ini….!!! Aku saying kepadanya. Aku ingin kita menjadikannya sebagai anak angkat karena aku tidak punya anak,” uajr Asiah  dengan memelas.
Fir’aun tidak dapat berbuat apa-apa setelah mendengar ucapan Asiah. Dia akhirnya terpaksa menuruti kehendak Asiah.
“Ya sudah, kalau memang begitu keinginanmu dan yang terbaik untukmu” ujar Fir’aun kepada Asiah.
Asiah pun tersenyum kepada Fir’aun dan mengucapkan terima kasih
“Terima kasih suamiku, engkau telah membolehkan aku merawat anak ini” ujar Asiah  senang
Sejak saat itu, Musa dirawat oleh seorang pengasuh.
Banyak wanita yang ingin memelihara dan menyusuinya. Namun, Musa tidak mau menyusu kepada siapapun sehingga Asiah menjadi Khawatir.
Akhirnya, Asiah membuka kesempatan kepada para wanita untuk menjadi ibu asuh Musa.
Sementara itu, ibu Musa menyuruh putrinya Maryam, Untuk mencari tau siapa yang telah menemukan bayinya.
“Maryam, pergilah engkau nak, untuk mencari adikmu, bagaimana keadaan ia sekarang, siapa yang menemukannya. Tanyakanlah kepada penduduk sekitar sungai Nil untuk mencari keadaan adikmu sekarang nak” perintah Ibunda Musa  kepada Maryam 
Maka, pergilah Maryam untuk mendengar berita tentang adiknya. Dari berita orang-orang di sekitar sungai Nil, dia kemudian mengetahui bahwa adiknya ditemukan oleh Asiah, istri Fir’aun. Dia juga tahu bahwa istri Fir’aun sedang mencarikan  pengasuh untuk menyusui Musa. Maryam segera pulang ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada ibunya.
“bu aku tahu, sekarang adik ada di istana Fir’aun ia ditemukan oleh istri Fir’aun Asiah, dan ibu tidak perlu khawatir jika ibu ingin melihat Musa, ibu bisa menjadi ibu susu Musa” ujar Maryam  menyampaikan kabar itu dengan ibunya.
Ibu Musa segera datang ke istana untuk melamar pekerjaan sebagai ibu asuh Musa.
“tuanku ratu, Hamba ingin melamar pekerjaan menjadi ibu asuh Musa jika tuanku ratu  berkenan” Ujar Ibunda Musa 
Asiah  menunjukkan bayi itu kepada ibunda Musa .
“Ini anaknya, silahkan kamu coba menyusuinya, selama ini banyak orang yang mencoba menyusuinya tetapi tidak ada yang cocok” ujar Asiah
Ibu Musa pun segera menggendong bayinya, dan menyusuinya. Ternyata, barulah Musa mau Menyusu. Asiah  pun menjadi lega.
“Aduh, untunglah Musa mau menyusu jika tidak, pasti Musa akan kelaparan”

Musa tumbuh menjadi seorang pangeran Mesir. Beliau mengenakan pakaian yang indah dan mahal serta belajar di sekolah kerajaan. Diapun berpakaian dan berbicara seperti layaknya orang Mesir. Namun, dia tidak pernah lupa bahwa dia keturunan Bani Israil. Musa melihat bagaimana Orang-orang Bani Israil menderita. Di mana-mana, laki-laki Bani Israil ditindas. Ada juga perempuan Bani Israil yang dipaksa untuk memebuat batu bata di bawah teriknya sengatan matahari.
“Hei, kalian cepat kerja……..!!!!!!!” bentak pengawal Fir’aun  kepada Bani Israil Sambil Mencambuki mereka.
Musa mendapati anak-anak Bani Israil berpakaian compang-camping, serta orang tua yang punggungnya penuh luka cambukkan,
Suatu hari, ketika Musa melihat dua orang laki-laki sedang berkelahi. Yang satu seorang laki-laki Mesir, sedangkan yang satu lagi seorang laki-laki Bani Israil. Musa mencoba menghentikan perkelahian itu, tapi kedua orang tadi tidak mau berhenti.
“Hei…!!! Jangan nberkelahi, jangan, berhenti…!!!” perintah Nabi Musa
 Bahkan, si laki-laki Mesir  berhasil memukul laki-laki Bani Israil. Si laki-laki Bani Israil meminta bantuan kepada Musa.
“Tuan pangeran tolong aku.....” pinta si Bani Israil dengan kesakitan
 Maka Musa lalu memukul si lelaki Mesir tadi. Musa sangat kaget, ternyata pukulannya telah membuat laki-laki Mesir tadi tewas. Laki-laki Bani Israil tadipun langsung melarikan diri.
“terimakasih tuan, saya harus kembali bekerja” ujar si Bani Israil  tadi sambil pergi
Musa sangat menyesali apa yang telah dilakukannya
“oh, ini pekerjaan setan. Sungguh, setan itu musuh yang sangat menyesatkan” sesal Musa 
“Ya Allah Ampunilah dosaku sesungguhnya aku telah berbuat aniaya” Musa  meminta ampun kepada Allah.
Allah pun mengampuni Musa, tapi Musa yakin orang-orang Mesir akan mencarinya.
Musa pun kembali Berdo’a “Ya Allha, engkau telah memberiku nikmat yang banyak jangan biarkan aku menolong orang yang berdosa lagi”   
Setelah berdo’a , Musa masuk ke Kota secara diam-diam. Hari itu, dia bisa pulang ke tempat tinggalnya dengan selamat. Beberapa hari kemudian, dia berjalan-jalan lagi, kemudian ia melihat laki-laki yang ditolongnya kemarin. Laki-laki itu kembali meminta pertolonghan musa tapi, Musa dengan tegas berkata “Sesungguhnya engkau orang yang sesat”
Kemudian, lelaki itu berkata “hai, musa apakah kau hendak membunuhku sebagaimana yang kau lakukan terhadap lelaki mesir itu” mendengar teriakan lelaki itu, Musa menjadi ketakutan. Mendadak dari arah kota datang seorang lelaki. Dia  berkata  “hai, Musa sesungguhnya para bangsawan telah sepakat untuk membunuhmu. Sebaiknya kau segera pergi dari sini” ujar Lelaki itu. Mendengar keterangan itu Musa semakin ketakutan. Lalu ia berjalan menyusuri jalan di padang pasir yang panas, dia mengembara sejauh mungkin walau tidak tau akan menuju kemana. Dia mengembara melintasi hamparan padang pasir yang ganas.
Musa berjalan tanpa lelah, rasa takutnya membuat rasa letihnya hilang entah kemana. Dia terus berjalan, takut kalau-kalau tentara Mesir berhasil mengejarnya. Setelah berjalan cukup jauh Musa sampai di sebuah kota bernama Madyan, Musa bersandar di sebuah pohon rindang, Tiba-tiba Musa  melihat serombongan orang  yang akan member minum ternaknya. Karena mata air itu hanya satu, mereka berebut untuk minum, dia antara mereka ada 4 orang wanita  yang hanya menunggu giliran karena mereka tidak berani berebut dengan para lelaki Musa pun menghampiri mereka
“Mengapa kalian disini…???” Tanya Musa 
“Ayah kami sudah tua shingga kami harus member minum ternak kami, namun ternyata kami tidak bisa memberI minum sebelum orang lain selesai ” jawab salah seorang dari mereka 
“Biarkan aku yang member minum ternak kalian, kalian tunggu saja di sana” ujar Musa  kepada mereka. Ke 4 gadis itu lalu menunggu di tempat yang teduh, setelah selesai member minum, Musa lalu mengembalakan kambing itu lalu mengembalikan kepada wanita itu, lalu Musa kembali berteduh. Sebentar setelah itu salah seorang dari wanita tadi datang dengan malu
“Ayah mengundangmu untuk datang kerumah” uajr gadis itu 
“Baiklah aku akan memenuhi undangan ayahmu”, Musa pun mengikuti wanita itu setelah tiba mereka disambut oleh ayah yang bernama Syu’aib. Beliau adalah seorang nabi. Musa lalu menceritakan kisahnya dari awal – akhir. Lalu salah seorang anak nabi syu’aib berkata “Ayah bagaimana jika Musa bekerja  membantu kita” ujar anak nabi Syu’aib
Musa pun setuju bekerja pada keluarga nabi Syu’aib, mulai hari itu Musa bekerja mengembalakan ternak keluarga Syu’aib, Musa bekerja sangat giat. Ternak berkembang dengan pesat, sehat dan gemuk.
Nabi Syu’aib  yang melihat Musa bekerja dengan rajin jadi bersimpati
“engkau bekerja sangat baik, aku sangat suka dengan pekerjaanmu,” ucap Nabi Syu’aib 
“Terimakasih, aku hanya menjalankan amanah yang kau berikan kepadaku”  jawab Musa
“ Sesungguhnya, aku memiliki harapan besar padamu.”
“ Aku ingin engkau menikahi salah satu putriku. Sebagai mas kawinnya engkau harus bekerja disini selama delapan tahun. Tapi, terserah jika engkau ingin menyempurnakannya menjadi sepuluh tahun. Aku tidak ingin menyusahkanmu.” Kata Nabi Syu’aib.
Musa menyertujui tawaran Nabi Syu’aib, Musa menikahi salah satu putri Nabi Syu’aib. selama 10 tahun dia bekerja  bekerja pada Nabi Syu’aib.
Wallahu 'alam bishowaf, mohon kritikan apabila trdapat kekeliruan........

0 komentar:

Posting Komentar